Mempublikasikan artikel ilmiah ke dalam jurnal internasional bereputasi tinggi yang terindeks Scopus sering kali menjadi momok, tidak hanya bagi mahasiswa pascasarjana, tetapi juga di kalangan dosen dan peneliti pemula. Penolakan (rejection), revisi yang tiada henti, dan maraknya jebakan jurnal predator menjadi rintangan yang sering menggugurkan semangat meneliti.
Menjawab keresahan tersebut, Perpustakaan IAIN Sorong kembali hadir dengan konten segar dan solutif. Pada episode ke-5 Podcast Pustaka, kami mengundang secara khusus Dr. Ahmad, salah satu dosen berprestasi di IAIN Sorong yang telah sukses memublikasikan berbagai artikel ilmiahnya di jurnal Scopus Quartile 1 (Q1).
Dipandu oleh host andalan Perpustakaan, episode kali ini dikemas secara santai namun padat ilmu. Dr. Ahmad secara blak-blakan menceritakan pahit manis perjuangannya, dari awal manuskrip ditolak mentah-mentah hingga akhirnya berhasil accepted di jurnal internasional ternama.
Mengapa Publikasi Scopus Itu Penting?
Bagi sebagian orang, Scopus mungkin hanya sekadar pangkalan data (database) abstrak dan kutipan. Namun, dalam ekosistem akademik modern, indeksasi Scopus merupakan salah satu tolok ukur utama kualitas dan kredibilitas sebuah karya ilmiah.
Dalam podcast tersebut, Dr. Ahmad menekankan bahwa mengejar publikasi Scopus bukan semata-mata demi mengejar kum (angka kredit) dosen atau sekadar syarat kelulusan mahasiswa S2/S3. Lebih dari itu, mempublikasikan karya di Scopus berarti:
- Menguji Kualitas Riset: Melewati proses peer-review dari para ahli global (reviewer internasional) membuktikan bahwa metodologi dan temuan riset kita valid.
- Memperluas Jangkauan Audiens: Tulisan Anda akan dibaca, disitasi, dan dijadikan rujukan oleh peneliti lain dari berbagai negara, yang tentu akan meningkatkan h-index penulis.
- Meningkatkan Reputasi Institusi: Semakin banyak sivitas akademika IAIN Sorong yang tembus Scopus, semakin meningkat pula ranking dan rekognisi kampus kita di tingkat nasional maupun internasional.
Trik Rahasia Menembus Jurnal Scopus Ala Dr. Ahmad
Di pertengahan perbincangan, Dr. Ahmad membagikan beberapa strategi “dapur” yang jarang dibahas dalam seminar penulisan akademik pada umumnya. Berikut adalah ringkasan poin-poin krusial yang dibahas:
1. Jangan Sembarangan Memilih Jurnal (Aims and Scope)
Kesalahan fatal pertama yang sering dilakukan peneliti pemula adalah asal submit tanpa membaca panduan jurnal secara teliti. Dr. Ahmad menyarankan agar penulis selalu memastikan keselarasan (fit) antara naskah artikel dengan Aims and Scope jurnal tujuan. Sebuah naskah yang sangat bagus sekalipun pasti akan ditolak (desk reject) jika topik bahasannya tidak sesuai dengan fokus jurnal tersebut.
2. Hindari Plagiarisme dan Pahami “Similarity Index”
Jurnal Scopus menerapkan standar zero-tolerance terhadap plagiarisme. Sebelum submit, selalu periksa naskah Anda menggunakan perangkat lunak antiplagiasi (seperti Turnitin). Usahakan batas kemiripan (similarity) berada di bawah 15-20%, tergantung kebijakan masing-masing publisher.
3. Merespons Komentar Reviewer dengan Elegan
Revisi adalah hal yang mutlak terjadi. Terkadang, kritik dari reviewer terasa tajam dan menyakitkan. Dr. Ahmad menegaskan:
“Jangan pernah mengambil hati (baper) terhadap komentar reviewer. Tugas mereka adalah memastikan kualitas artikel Anda. Balaslah komentar tersebut satu per satu secara sopan, logis, dan terstruktur. Jika Anda tidak setuju dengan reviewer, utarakan alasan ilmiah Anda didukung dengan referensi.”
4. Waspada Jebakan Jurnal Predator
Banyak jurnal abal-abal yang menjanjikan proses review kilat (dalam hitungan hari) dengan syarat membayar biaya publikasi (APC) yang mahal. Ciri utama jurnal predator adalah peer-review fiktif. Selalu periksa kembali status jurnal tersebut di Scimago Journal Rank (SJR) atau pastikan tidak masuk dalam Beall’s List.
Checklist Persiapan Sebelum Submit Jurnal Scopus
Apakah Anda berencana untuk submit artikel dalam waktu dekat? Simak dan gunakan checklist praktis dari Podcast Episode 5 ini:
- Naskah telah diterjemahkan oleh translator profesional atau layanan proofreading bahasa Inggris native.
- Abstrak ditulis secara komprehensif, mencakup: Latar belakang, Tujuan, Metode, Hasil utama, dan Kesimpulan singkat.
- Gaya selingkung (referensi dan layout) sudah 100% mengikuti Author Guidelines dari jurnal yang dituju.
- Minimal 70-80% dari Daftar Pustaka menggunakan referensi primer (jurnal) yang diterbitkan 5 tahun terakhir.
- Cek status indexing jurnal tujuan di website resmi scopus.com untuk memastikan jurnal belum discontinued.
Bagi Anda yang melewatkan siaran langsungnya, tidak perlu khawatir. Rekaman penuh Podcast Pustaka Episode 5: Ngobrol Santai Seputar Jurnal Scopus dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Perpustakaan IAIN Sorong atau didengarkan melalui platform Spotify. Jangan lupa subscribe dan bagikan ilmu bermanfaat ini ke rekan-rekan peneliti Anda!